Ketika Provider-ku Tak Berfungsi


     Keadaanku dan anggota keluargaku baik-baik saja. Anak-anak memiliki kegiatannya sendiri, istriku pun sibuk dengan usaha on-line-nya. Aku lebih memilih mengambil handphone-ku dan berdiam di kamar. Sudah beberapa minggu ini memang aku senang melihat contact di handphone-ku. Ada wajah teman-teman masa laluku kembali bermunculan, termasuk... Seseorang yang pernah istimewa mengisi hidupku selama 4 tahun, ”mantan” pacar-ku. Sesekali ada pembicaraan juga dengannya, dari bertanya apa kabar, bercerita tentang kegiatan sehari-hari, sampai menyebutkan beberapa tempat, tentu akhirnya juga menyebutkan beberapa tempat yang pernah kami kunjungi bersama. Ada sebuah restoran menarik yang dulu kerap kami kunjungi, harganya terjangkau dan suasananya nyaman sekali. Aku tidak terlalu ingat siapa yang pertama kali mengajak untuk bertemu kembali di restoran itu;  entah dia, atau aku. Awalnya kami masih terlibat di dalam permainan kata-kata saja, tarik-ulur, tidak terlalu antusias untuk bertemu, kupikir ya, hanya sekadar basa-basi saja. Namun beberapa hari belakangan ini, aku jadi sering memikirkan tempat itu dan ada sebuah kerinduan menyelinap di benakku.

     ”Jadi ya, ketemuan jam 5 di sana?” Pesan singkat darinya.
     ”Ya.” Balasku. Aku tersenyum ketika telah mengirimkan balasanku itu. Ada sesuatu yang menggetarkan hatiku. Ini pasti seru.. Kembali aku memeriksa handphone-ku. Belum ada tanda ’D’ apalagi tanda ’R’. Wah! Mengapa terasa lama sekali. Aku melangkah ke ruangan tamu sejenak, hanya untuk melihat anak dan istriku. Entah mengapa, aku merasa perlu melihat apa yang sedang mereka lakukan. Istriku seperti biasa asyik dengan dagangan dan komputernya, anak-anakku juga asyik dengan game mereka, keberadaanku, tidak mereka hiraukan sama sekali. Ada rasa senang menyelinap di hatiku, lalu, aku kembali ke kamarku dan memeriksa handphone-ku, masih belum ada tanda ’D’ sebagai tanda pesanku sampai. Aku masih sabar menunggu, tak mengapa pikirku dengan hati yang berbunga-bunga. Lima menit telah berlalu.. Mulai kesal juga aku menunggu, kulepaskan baterai handphone-ku dan kembali kunyalakan.. Dua puluh menit berlalu, tanda ’D’ itu tetap belum ada, entah mengapa aku menjadi marah, sangat marah!!! Hatiku kesal tiada tara. Mengapa provider ini memilih ’mati’ pada saat aku sedang semangat sekali bertemu dengan seseorang!!! ’Seseorang!!??’ Siapakah seseorang itu hingga diriku hampir hilang kendali? Mengapa seseorang itu menjadi begitu penting? Ada apa dengan diriku? Tiba-tiba diriku dihujani pertanyaan-pertanyaan itu. Tersadar aku! Hampir saja kumasuki awal perselingkuhan.

     Kutenangkan diriku.. Kembali kuberjalan ke ruang tamu. Aku berkata pada istriku, ”Ma, daripada kita sibuk masing-masing, kita jalan-jalan yuk.” Ajakku. Istriku tersentak melihatku, ”Kupikir, papa sedang sibuk. Jadi aku tidak ingin mengganggu. Tapi sebenarnya, aku juga ingin sekali jalan bersama. Yuk, pa.” Jawab istriku.



Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center - Kursus Kecerdasan Pribadi Pertama di Indonesia untuk usia 2 s.d 19 tahun
FB fanpage: Yacinta Senduk
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Mari berkenalan dengan Pre-School kami untuk usia 2 s.d 6 tahun, dengan konsep interaksi penuh dengan murid, harga bersahabat dan sangat bermutu tinggi: www.juniory-pre-school.blogspot.com

Talenan, O, talenan...


Pertengkaran hebat terjadi antara suami-istri, entahlah, bagaimana menurut anda mengenai pertengkaran ini?

Seorang suami senang sekali mendapat tugas ke Luar Negri. Pada tugasnya yang pertama ini, sang istri dibawakannya oleh-oleh sebuah talenan.

Istri: Talenan? Jauh-jauh dari luar negri, kamu bawakan aku talenan? Kamu juga tahu bahwa aku tidak bisa memasak! Maksudnya apa aku dibawakan talenan.

Suami: Ketika di sana aku selama sebulan, aku sungguh kesepian dan aku rindu padamu. Di tempatku tinggal, aku harus menyediakan makananku sendiri. Sehingga aku berangan-angan engkau ada di sampingku di tempat yang indah itu dan kita makan yang hangat-hangat bersama. Kau memasakkan sup ayam untukku, itu sangat romantis, bagiku.

Istri: Dari awal menikah, kau tahu aku tidak suka memasak. Dan sampai kapan pun aku tidak akan memasak. Kau pikir dengan kaubawakan aku talenan, besok aku akan memasak untukmu??

Suami: Tidak bolehkah jika aku berharap kau mau memasak untukku, walau itu hanya yang simpel-simpel saja.

Istri: (menangis...) Jika engkau sudah tidak mencintaiku lagi karena aku tidak bisa memasak, aku relakan kau mencari wanita yang lain...

Suami: #??*###@@?#

Beberapa orang yang saya tanyakan memberikan jawaban seperti ini:

“Sang suami memberi oleh-oleh untuk dirinya sendiri sedangkan sang istri hidup di dunianya sendiri.”

“Suami yang tidak mengerti keinginan istri dengan memberi sesuatu yang tidak bisa dipakai istri, dan istri yang tidak mengerti keinginan suami yang ingin agar istri memasakkan sesuatu untuk suami.”

“Istri yang aneh masak buat suami dan anak nggak mau padahal belum dicoba, malah langsung ngomong nggak jelas begitu.”

Namun dari jawaban-jawaban tersebut, dimana mereka semua mencoba memberikan pandangan secara adil, saya yakin, jawaban yang paling sering mendamaikan suasana adalah jawaban seorang bapak yang satu ini: “ya sudahhh...buang saja talenan itu”. Saya pribadi kurang setuju dengan jawaban ini karena itu berarti sang suami harus membuang mimpinya dan seolah menuruti kehendak istrinya. Namun yang harus diingat adalah hal yang besar yang harus dipertahankan, yaitu keutuhan rumah tangga, masa depan seluruh anggota keluarga itu. Hhmm, mudah-mudahan, jika suasana bisa tetap manis dan romantis, perlahan suami itu bisa mengajak sang istri memasak di dapur ya. da banyak kok pendekatan yang lebih manis daripada hanya sekedar harus menang saat itu juga. Ada banyak kok pendekatan yang lebih manis daripada hanya sekedar harus menang saat itu juga. Apakah talenan lebih penting daripada janji pernikahan?

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center - Kursus Kecerdasan Pribadi Pertama di Indonesia untuk usia 2 s.d 19 tahun
FB fanpage: Yacinta Senduk
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Mari berkenalan dengan Pre-School kami untuk usia 2 s.d 6 tahun, dengan konsep interaksi penuh dengan murid, harga bersahabat dan sangat bermutu tinggi: www.juniory-pre-school.blogspot.com

Ia Bukan Anak Favoritku


Seorang ibu menceritakan pengalamannya pada saya. Ia mempunyai 3 orang anak tetapi ia paling merasa tidak cocok dengan putri bungsunya. ”Entahlah kenapa, tapi aku benar-benar tidak suka dengan sifat pemberontaknya. Dan beberapa tahun lalu, seorang pintar pernah mengatakan bahwa aku dan putri bungsuku memang tidak cocok. Ciong!” Kata ibu itu.

”Mulanya aku percaya dengan perkataan bahwa aku tidak cocok dengan putri bungsuku. Tapi suatu kali, ketika aku sedang membereskan kamar anak-anak, aku membaca buku harian si bungsu. Ia menulis: Sebentar lagi mama ulang tahun, kakak-kakakku sudah punya kado untuk diberikan pada mama, aku belum.. Aku takut kalau aku salah beli kado lalu mama membuang kadoku, lalu mama marah padaku, lalu... Ah! Tidak dapat aku bayangkan. Orang itu bilang aku memang tidak akan pernah cocok sama mama, itu mungkin berarti, apa pun yang akan kulakukan untuk membuat mama senang, pasti akan berakhir buruk. Aku sedih sekali. Bahkan, anak-anak yang dibuang oleh orangtuanya saja, mereka masih punya sedikit harapan untuk suatu waktu boleh bertemu dengan orangtuanya. Sedangkan aku? Aku seperti terlahir mempunyai mama yang salah, kemana aku harus mencari mama yang benar? Mengapa Tuhan memberikan aku mama yang salah?” Papar sang ibu.

”Setelah membaca buku harian anakku itu, aku pun akhirnya bertanya, mungkinkan Tuhan salah memasangkan aku dan anakku? Tidak mungkin, pikirku. Tuhan itu maha baik, maha benar, tidak mungkin IA membuat kesalahan seperti itu. Sore harinya, aku putuskan untuk pergi berdua saja dengan si bungsu... Mengajaknya saja, hatiku sudah berat sekali, mengingat mimik mukanya yang selalu cemberut, jawaban-jawaban singkatnya yang selalu sinis, kecenderungan-kecenderungan ia selalu mau melawanku. Dan benar, ketika hendak berangkat saja, ia memang sudah berulah. Aku mencoba diam, tidak marah-marah seperti biasanya. Di Food Court, aku mencoba lebih banyak tersenyum mendengarkan dia bercerita tentang hal yang sebenarnya tidak menarik. Berbeda sekali dengan kedua anakku lainnya, mereka selalu punya topik lucu dan ceria yang mudah membuat aku tertawa. Aku menawarinya untuk membeli baju, pilihan-pilihan bajunya pun, kurasakan norak, tapi aku tetap mencoba memahaminya... Ketika sampai di rumah, anakku berkata, ”Mama, hari ini aku senang pergi dengan mama. Tadinya aku takut pergi dengan mama, takut kita bertengkar lagi, makanya tadi aku melawan supaya tidak jadi pergi.” katanya.

”Hari itu aku belajar untuk memahami orang lain, hari itu aku belajar menerima bahwa hidup ini tidak selalu untuk menyenangkan diri sendiri. Kedua anakku, memang pandai merebut hatiku. Tapi seorang darah dagingku yang satu ini, adalah titipan Tuhan yang membuat aku belajar untuk melihat hidup tidak hanya dari satu sisi saja. Ternyata, memahami hidup dari berbagai sisi, sungguhlah indah.”


Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Kebohongan-kebohongan ia yang berselingkuh


Kepada istri ataupun suami yang mengetahui pasangannya berselingkuh sering sekali dilemparkan fakta-fakta bohong yang menyebabkan dirinya tak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Di dalam kasus perselingkuhan, sering sekali yang berselingkuhlah yang mencari pembenaran diri atas kesalahan yang dilakukannya dan dengan tindakan manipulatif yang bulus, pasangan yang diselingkuhi menjadi hilang pegangan akan mana yang benar dan mana yang salah.

Topik ini saya angkat untuk membantu mereka yang mempunyai pasangan yang berselingkuh. Banyak dari mereka yang sudah kehilangan jati diri mudah mempercayai kebohongan-kebohongan jahat pasangannya.

”Kamu tuh harus ngaca, kalau penampilanmu seperti itu, suami mana yang tahan?” Cerita seorang ibu tentang apa yang dikatakan suaminya terhadap dirinya, dimana suaminya sudah memiliki wanita simpanan.

”Makanya kalau jadi perempuan musti nurut sama suami, biar suami betah di rumah!” Anjur kenalan seorang ibu yang suaminya berselingkuh.

Atau beberapa kalimat lainnya...
”Makanya jadi perempuan jangan kebanyakan mulut, makanya suamimu nyari yang lain.”
”Jadi suami tuh harus bisa cari duit yang banyak, biar istrimu nunduk.”
”Jadi suami jangan diam aja, diatur-atur istri kok mau.”

Anjuran-anjuran untuk membenahi diri sangatlah tidak salah, syukurlah jika setelah berbenah diri keadaan benar-benar menjadi seperti yang diinginkan. Tetapi seperti seorang ibu berparas manis yang saya temui, ia berkata, ”Tadinya saya mempunyai berat badan 60 kilo, bu. Lalu karena suami saya punya simpanan, saya ikut fitness dan diet, sekarang berat badan saya 47 kilo.. Ibu tahu siapa yang pertama kali menyadari perubahan penampilan saya? Bukan suami saya loh, bu, tetapi satpam sekolah anak saya. Satpam itu berkata, wah! Ibu sekarang cantik banget.” Kata ibu itu sedih. ”Setelah penampilan saya berubah, saya pikir ia akan benar-benar kembali pada saya, ternyata tidak.” Malah suami saya berkata, ”Percuma kamu mau sok cakep begitu, buang waktu, buang uang saja, mending urus anak.” Kata ibu yang sedang mengurus perceraian mereka.

Kebohongan untuk membenarkan perselingkuhan selalu harus ditopang dengan kebohongan-kebohongan yang lain dimaksudkan agar yang diselingkuhi lapang dada untuk menerima perselingkuhan itu. Itu tidak benar! Jika anda diselingkuhi, janganlah buang waktu mempercayai kebohongan itu, apalagi sampai nekat ingin bunuh diri. Anda terlalu berharga untuk mati karena kebohongan yang demikian. Tetaplah berdoa, niscaya kebohongan itu akan dikalahkan oleh kuasa Ilahi.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Ikuti sekilas parenting kami di youtube: http://youtu.be/DB_ewJfxGzg

Tidak Percaya Dengan Berbicara


Seorang ibu bertemu dengan pelatih berkata bahwa ia telah putus asa dan sangat kehilangan akal bagaimana menghadapi 2 puteranya yang selalu bermasalah di sekolah mereka. Dua orang puteranya sering berulah dari bertengkar sampai berkelahi dengan teman-teman sekolahnya.
     ”Saya benar-benar menyerah, anak saya yang pertama itu sudah pernah saya kurung di kamar mandi seharian. Eh! Nggak ada takutnya loh.. Dua-duanya itu, kalau dimarahi, selalu malah menantang balik, mata mereka melotot-melotot, pokoknya tidak ada takutnya.” Kata ibu itu geram.
     ”Lalu apa saja tindakan-tindakan yang pernah ibu dan suami lakukan?” Tanya pelatih.
     ”Macam-macam... Dari mencubit, menampar dan memukul pakai ikat pinggang, ya, pokoknya macam-macamlah. Kami akan lihat saja mana yang saat itu kira-kira akan membuat mereka jera.” Jawab ibu itu lagi.
     ”Pernah ibu coba dengan cara berbicara?” Kembali pelatih bertanya.
     ”Hah? Berbicara? Maksudnya tuh anak-anak diajak ngomong??” Ibu itu tiba-tiba berubah sinis. ”Wah! Kamu pikir aja deh, orang dipukulin aja nggak mempan, apalagi cuma diajak bicara.”
     ”Tapi apa pernah dicoba untuk diajak bicara?” Pelatih masih gigih bertanya.
     ”Bicara gimana sih?” Nada ibu itu meninggi.
     ”Baiklah... Mungkin pertanyaan saya begini, apakah ibu atau suami pernah mengajak anak-anak ibu berbicara? Berbicara apa saja tetapi bukan perintah atau larangan hanya pembicaraan yang biasa saja?” Tanya pelatih hanya ingin mengetahui pola komunikasi keluarga ibu ini.
Ibu itu menghela nafas dan berkata, ”Saya dan suami saya ini sibuk sekali, kami bekerja keras dan pulang sampai malam. Dulu juga orangtua saya begitu, mereka sibuk jaga toko dan anak-anak semua tahu diri untuk tidak menyusahkan orangtua. Kalau anak-anak ada yang bermasalah ya, lazimlah kalau dipukul supaya tidak nakal lagi.

     ”Yah! Itu jugalah yang dipelajari oleh kedua anak laki-laki ibu. Mereka tidak bisa berbicara dengan teman-teman mereka. Yang mereka tahu, jika ada masalah, masalah itu hanya bisa diselesaikan dengan cara memukul atau berkelahi.. Ibu dan suami tidak percaya bahwa berbicara bisa menyelesaikan masalah, ditambah pula, ibu dan suami mempraktekkannya dengan jelas dengan memberi perintah-perintah kemarahan melalui pukulan-pukulan. Itulah yang mereka contoh.” Jelas pelatih.
     ”Jika solusi yang anda tawarkan untuk saya adalah saya harus berbicara dengan anak-anak saya. Saya rasa itu tidak akan mempan.” Jawab itu sengit. Sejak hari itu, kami tidak pernah bertemu lagi dengan ibu dan kedua puteranya tersebut.


Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Ikuti sekilas parenting kami di youtube:
 http://youtu.be/DB_ewJfxGzg

Tak mengapa ayah lapar...

26 Februari 2012

Duduk santai di sebuah rmh makan, ada satu keluarga kecil yg sgt menarik perhatianku.

Ketika makanan diantar, sang ayah terlihat antusias ingin menyantap. Sementara istri & anak2 mengatur tata letak makanan yg baru datang itu.

Suami siap menyantap makanan, tampak benar ia sangat lapar rupanya. Namun bayi mrk yg di kereta bayi menangis kencang..

Kemudian sang istri menghibur bayi mrk, dua kakak perempuan bayi itu pun heboh mencoba menenangkan bayi yg makin kencang menangis.

Melihat kegiatan sibuk anak istrinya, ayah yg kelaparan itu membatalkan suapan pertama. Tangan kirinya menyentuh bayi mrk dlm kereta bayi.

Ajaib.. Bayi itu segera diam. Istri-anak2 siap kembali mengambil posisi makan. Tangan kiri sang suami msh menyentuh bayi di keretanya.

Tangan kanannya, berhasil memasukkan suapan pertamanya. Walau tampak kelaparan, matanya tak lepas melirik bayi itu.

Baru hendak memasukkan suapan yg kedua, bayi mrk tiba2 menangis lagi, kecang sekali. Istri & anak2 kembali bersiap utk membujuk sang bayi.

Namun segera sang ayah yg belum lg menyuapkan suapan kedua, berdiri & berkata, 'sudah tdk apa, bapak saja. Kalian makan dulu.'

Istri & anak2 kembali makan. Sang ayah berdiri mengeluarkan bayinya dari kereta lalu menimang bayinya & berjalan keluar rmh makan.

10 menit kmdn ayah itu kembali lg dgn bayinya telah tertidur pulas. Anak-istrinya telah selesai makan. Nasi-lauk di piringnya telah dingin.

Perlahan diletakkan bayi yg telah pulas itu di kereta. Ayah itu duduk tersenyum, tak sedikitpun ada kekesalan di wajahnya.

Dgn tenang sang ayah melanjutkan suapan yg kedua dgn lahap.. Sungguh indah keluarga ini. Semoga semua keluarga Indonesia demikian... ♥

Follow Twitter: @Yacinta_Senduk
Add BB Pin Yemayo-AEC: 2736346A
Fanpage Facebook: http://www.facebook.com/pages/Yacinta-Senduk/124113834349748
Tulisan keluarga: www.yacintasenduk.blogspot.com

Saya Harus Bercerai..

Saya bertemu dengan seorang bapak, awalnya kami membicarakan hal-hal umum saja sampai berbicara mengenai pekerjaan dan akhirnya saya katakan bahwa saya sering membawakan seminar tentang keluarga.
            ”Anda pastilah salah seorang yang menentang perceraian.” Katanya.
            ”Tentu saja. Tidakkah bapak juga demikian?” Tanya saya.
            ”Saya punya pemikiran yang lain. Buat saya, hidup adalah tanggung jawab masing-masing pribadi. Pernikahan yang utuh tidak memberikan garansi apa-apa.” Katanya datar. ”Apakah ada yang salah di dalam pernikahan bapak?” Tanya saya ingin tahu.
            ”Oh! Tidak, tidak sama sekali... Pernikahan kami baik-baik saja, sangat baik, saya tidak menemukan alasan berarti untuk bercerai.” Katanya lagi. Saya merasa janggal dengan pernyataannya sehingga saya bertanya, ”Maaf, saya agak bingung. Bukankah hal itu baik, Pak? Mengapa harus mencari alasan untuk bercerai?”
            ”Anda tahu, ayah saya menikah tiga kali. Setelah diceraikan ayah saya, ibu saya menikah lagi. Dari empat orang adik saya, dua orang adik saya sudah bercerai, seorang lagi tidak ingin menikah dan seorang lagi hidup dengan pasangan tanpa ikatan pernikahan. Sekarang saya melihat, mereka semua hidup baik-baik saja...” Jelas bapak itu. ”Dan bapak merasa aneh karena hanya bapak yang hidup di dalam pernikahan yang utuh?” Tanya saya mulai mengerti arah pembicaraannya. ”Jika kita bisa hidup bahagia tanpa ikatan, lalu mengapa kita membiarkan diri kita terikat?” Tanyanya. ”Ikatan itu adalah suatu komitmen kesetiaan yang besar yang akan menjaga keutuhan perasaan dikasihi, sampai anak-cucu kita, Pak. Tidak hanya berhenti pada kita dan pasangan kita saja.” Jawab saya. ”Maksudnya?” Ia bertanya setengah protes.
”Ketika ayah-ibu bapak bercerai, apa yang terjadi dengan bapak?” Tanya saya.
            ”Saya masih berusia 12 tahun saat itu. Jelas... Saya marah pada ayah saya. Saya putus sekolah dan saya harus menghidupi adik-adik saya dengan berjualan kue buatan ibu saya. Adik-adik saya yang masih kecil pun, terpaksa harus turut bekerja saat itu.” Jawabnya geram. ”Jika bapak bercerai, menurut bapak, berapa lama anak sulung bapak akan sanggup mengatasi permasalahan perceraian orangtuanya?” Kembali saya bertanya.
            ”Pertanyaan anda agak kejam.” Katanya setengah tertawa. ”Si sulung? Jagoan saya itu? Harus jualan kue seperti saya? Nggak kebayang...” Lanjutnya.
            ”Bapak adalah orang yang baik. Lingkungan bapak memang tidak memberikan teladan yang baik tentang keluarga yang utuh. Jika bapak tidak bercerai, bukan bapak yang ’aneh’, tetapi bapaklah yang memperjuangkan agar hal ’aneh’ itu tidak terjadi lagi di kehidupan anak-cucu bapak selanjutnya. Bapaklah yang akan memberikan teladan akan pentingnya keluarga yang utuh.” Kata saya. Bapak itu menatap saya dan tersenyum.


Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Ikuti sekilas parenting kami di youtube: http://youtu.be/DB_ewJfxGzg


Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com