Tulisan-tulisan ini...

Semua tulisanku diinspirasikan oleh kisah nyata, sungguh nyata, dengan nama dan beberapa hal telah kuganti untuk melindungi privasi orang yang bersangkutan. Tulisan-tulisanku ini tidak untuk mengangkat 'kecengengan' atau 'kesedihan' tetapi sebaliknya, kisah-kisah yang kutulis ini adalah kisah-kisah perjuangan yang walau tidak mudah namun akhirnya penuh kemenangan dari pribadi-pribadi yang berhati baik.

-Salam hormat & kasihku untuk semua keluarga Indonesia.

Aku, Suamiku dan Putera Kami


Kami dikarunia seorang anak laki-laki dan tiga orang putri. Secara fisik, ke-empat putra-putri kami sehat walafiat, itu saja sebenarnya cukup menjadi hal yang kami syukuri dalam hidup ini. Namun suamiku dan putra sulung kami selalu saja tak bisa akur. Suamiku seorang yang sangat disiplin. Ia dibesarkan dari keluarga berkekurangan, hidup telah menempanya menjadi pribadi ulet yang berhasil. Segala keuletan dan kedisiplinannya itulah yang ingin ditanamkannya pada anak sulung kami, putera kami satu-satunya. Banyak metode parenting yang mati-matian coba diterapkan oleh suamiku kepada Jason; tapi tampaknya metode-metode itu tak dapat berjalan baik. Jika suamiku adalah seseorang yang ‘saklek’ berbeda sekali dengan Jason, ia adalah seorang anak laki-laki yang lebih menunjukkan kemampuan seninya, terutama pada alat musik. Beberapa alat musik dipelajarinya secara otodidak, ia dan alat musik seperti menyatu walaupun tidak ada satu kursus musik pun yang diikutinya. Bukan kemampuan seni itu yang sering menyebabkan pertengkaran antara Jason dan suamiku, tapi sifat Jason yang lambat, semaunya sendiri, tidak disiplin, berantakan, itu yang selalu menjadi pemicu keributan.

Ayah dan anak itu sering sekali bertengkar; naik mobil saja contohnya, ada beberapa macam pertengkaran yang mengesalkan, seperti Jason membanting pintu mobil terlalu kencang, buku PR-nya yang tertinggal berulang-ulang, cara duduknya yang serampangan, bertengkar dengan adik-adik perempuannya. Itu baru tentang di mobil, masih banyak hal-hal yang memusingkan kepala yang aku sendiri sebagai istri dan ibu menjadi bingung. Suatu hari aku bisa memihak suamiku, di hari lain aku bisa memihak Jason. Suatu hari aku bisa ikut memikirkan metode parenting untuk dijalankan bersama suamiku, di lain hari aku bisa menasehati suamiku panjang lebar untuk tidak bersikap terlalu keras pada Jason.

     “Dia itu seorang laki-laki. Harus belajar bertanggung-jawab. Bagaimana hidupnya nanti kalau begitu terus kelakuannya? Bisa jadi gembel dia.” Beberapa kali kudengar pernyataan itu dari mulut suamiku. Dalam hatiku aku mengakui, aku pun khawatir akan masa depan Jason dengan sikapnya yang tak berubah juga, tapi aku pun tidak ingin suamiku terus menerus memprediksi nasib buruk akan menimpa puteraku. Sebagai orangtua, seharusnyalah kami mendoakan putera-puteri kami kepada Tuhan, bukan menyerapahi dengan hal-hal buruk. Seperti biasa, aku hanya terdiam membiarkan suamiku mengeluarkan unek-uneknya tentang Jason.

     “Ma, bagaimana caranya supaya Jason tidak terus menerus bertengkar dengan papa? Mengapa duduk 5 menit saja dekat papa akan ada saja keributan? Jason kan juga mau seperti teman-teman Jason, mereka bisa nyantai duduk bareng sama papa mereka nggak pake ribut-ribut. Kok Jason dan papa tidak bisa seperti itu? Menurut mama, Jason harus bagaimana?” Tanya puteraku yang telah menginjak usia 17 tahun itu.

     “Sayang... Mama tidak mau kau berubah untuk menyenangkan papa.” Kataku.
     “Maksud mama?” Tanya Jason bingung mendengar kata-kataku.
     “Kalau kau mau berusaha, berubahlah untuk dirimu sendiri, untuk hidupmu sendiri, dan berdoalah kepada Tuhan, mohon tuntunanNya.” Sambungku.
     “Tapi, ma.. Papa juga harus berubah. Jangan hanya Jason saja yang berubah.” Protesnya.
     “Kalau kau menuntut orang lain berubah, orang lain mungkin tidak berubah, dan kau akan selalu kecewa. Itulah sebabnya mama katakan, jangan berubah untuk menyenangkan papa. Berubahlah karena kau ingin memiliki hidup dan masa depan yang baik; itu termasuk jika kau harus berubah dan papamu tidak mau berubah.” Kataku lagi.
     “Bagaimana itu?” Tanyanya.

     “Untuk kali ini... Mama harap kau yang memikirkan caranya, agar kau bisa bertanggung jawab atas tindakan yang akan kauambil.” Jawabku mencoba untuk tidak terus menerus menasehatinya dengan cara ini dan itu. Toh, cara ini dan itu telah kami teriakkan hampir setiap hari padanya. Mungkin saat ini adalah saat yang baik untuk Jason mulai berpikir.

     “Aneh sekali Jason hari ini. Dia tidak banyak membantah seperti biasanya jika kutegur.” Ujar suamiku setelah mengganti pakaian kerjanya.
     “Baik atau tidak seperti itu?” Tanyaku.
     “Ehhmmm... Yaaa, baik sih. Tapi ada apa sih?” Ia balik bertanya.
     “Kalau baik, sudahkah kau berbicara hal baik dengannya? Atas usahanya? Atau hal apa saja yang menyenangkan?” Lagi tanyaku.
     “Masakan baru baik begitu saja sudah harus kupuji. Jangan-jangan itu cuma angot-angotan saja. Aku selalu bersikap baik pada mama-papaku sejak kecil, tidak dipuji-puji tuh.” Jawabnya.
     “Ya, mungkin benar dia hanya angot-angotan saja. Tapi itu adalah satu kesempatan baik bagimu dan anakmu untuk menikmati suatu waktu kebersamaan dengan membicarakan hal yang baik. Siapa tahu besok kalian sudah akan bertengkar lagi seperti anjing dan kucing. Kau akan menyesal tidak pernah berbicara baik-baik dengan anakmu.” Kataku sambil berlalu menuju dapur, yang jelas, aku tidak bisa memaksa siapapun untuk berubah; namun jika ingin berubah, biarlah berubah ke arah yang lebih baik dengan kesadaran masing-masing. 15 menit berada di dapur, kudengar suara 2 laki-laki yang kusayangi itu tertawa-tawa di ruang tamu. Mungkin itu hal yang angot-angotan saja, tapi paling tidak, hal baik itu benarlah pernah terjadi.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Yemayo Advance Education Center

▪ Fanpage Facebook Yemayo Advance Education Center: https://m.facebook.com/yemayoaec
▪ Kicau Keluarga follow Twitter @Yacinta_Senduk
▪ Juniory Pre-School. Pre-School unik, 1 kelas hanya 8 murid. Semua murid tertangani dengan baik. Info: https://m.facebook.com/juniorypreschool

Permohonan Ibu-ku


Aku adalah bungsu dari 3 bersaudara yang selalu saja mendapat perlakuan berbeda dari ayahku. 7 tahun yang lalu telah terjadi pertengkaran yang hebat antara aku dan ayahku hingga aku memilih untuk meninggalkan rumah. Bermula dari kuutarakan betapa ayahku telah memperlakukan aku tidak adil dibadingkan kedua kakakku; ayahku hanya menjawab bahwa aku hanyalah anak yang harus menurut pada kata-kata orangtua dan tidak boleh membantah sama sekali. Ia lebih mirip seorang diktator bagiku daripada seorang ayah. Aku merasa bahwa aku harus menunjukkan sikap yang tegas untuk menentukan pilihan hidupku. Aku masih mencoba meminta restu orangtuaku ketika aku akan menikahi istriku, tapi ayahku tak menegurku sama sekali saat aku datang ke rumahnya. Ibuku lebih banyak diam. Aku sulit menyalahkan ibuku. Antara peran sebagai istri dan ibu, ibuku lebih memilih untuk membela suaminya daripada menenangkan anaknya. Syukurlah, bersama keluarga kecilku aku bahagia bersama istri dan 2 orang anakku. Sejak aku telah menjadi seorang ayah bagi anak-anakku, aku semakin heran bagaimana ayahku bisa bersikap sedemikian keras kepada darah dagingnya sendiri? Kebanggaan apa yang diperolehnya dengan memperlakukan anak kandungnya dengan semena-mena?

6 hari sejak mengetahui ibuku berada di ICU baru siang itulah aku dapat tiba di rumah sakit ini karena sulitnya memperoleh tiket pesawat. Di gang rumah sakit itu aku bertemu dengan ayahku dan Norman kakakku yang tertua. Norman tampak terlihat gelisah namun antusias bertemu denganku; ia memelukku. Kemudian aku menghampiri ayahku yang sedang duduk terdiam. Ia melihatku sebentar dengan ekspresi muka yang dingin, lalu membuang mukanya.
     “Apa kabar, Pa?” Sapaku masih berusaha menegurnya. Tiba-tiba Norman menepuk pundakku, “Ayolah, lihat mama. Dokter bilang, semua keluarga harus sudah berkumpul. Kita semua harus sudah siap. Keadaannya sangat tidak baik. Dokter heran bagaimana mama masih bisa sadar dalam keadaan organ tubuhnya yang sudah banyak tidak dapat berfungsi lagi.” Jelas Norman.  Mendengar penjelasan Norman, aku sempat terdiam sejenak. Suatu perasaan sedih yang sangat besar menghantamku. Tiba-tiba tubuhku gemetar. “Oh, Tuhan. Keluarga ini telah menyingkirkan “kasih keluarga”. Kami semua hanya dibesarkan untuk bisa bertahan hidup dan mandiri; sementara “kasih” itu selalu disingkirkan oleh gengsi, harga diri, uang dan nama baik. Bagaimana menyelesaikan masalah ini jika mama sudah harus pergi? Aku sungguh tak tahu. Sungguh perasaan itu mengguncang jiwaku.

     “Di.. Aldi..” Terdengar suara mama di antara suara-suara mesin alat bantu yang ada di dekatnya.
     “Sini, nak..” Katanya seperti ingin segera menyampaikan sesuatu.
     “Anakku... Mama minta maaf atas semua kesalahan mama padamu. Mama sudah harus pergi, nak. Tapi mama harus menunggu engkau datang. Mama bukanlah mama yang baik buatmu, nak. Mama hanya selalu takut kalau papamu marah. Jadi mama selalu diam saja tidak pernah membelamu. Maafkan mama, nak.” Kata mama susah payah menyelesaikan kalimatnya.
     “Aldi sudah punya keluarga yang baik, ma. Mama jangan khawatir. Istri dan anak-anak Aldi semuanya baik-baik dan kami saling menyayangi. Jika mama sudah sembuh, nanti Aldi bawa mereka bertemu dengan mama.” Aku mencoba menghibur ibuku.
     “Mama minta maaf, Aldi. Mama sungguh-sungguh minta maaf. Maafkan mama, nak.” Kata mama lagi sungguh mengejar pernyataan maafku.
     “Ya, Aldi maafkan, ma. Maafkan Aldi juga untuk kesalahan Aldi pada mama. Bagaimanapun, Aldi bersyukur telah dilahirkan mama. Terimakasih, ma.” Kataku lagi.
     “Kau adalah anak yang baik. Anak baik yang kami abaikan, maafkan mama, nak. Maafkan kami, orangtuamu.” Kata mama lirih sambil menangis. Sejenak keadaan menjadi sunyi. Aku memegangi tangan kanan ibuku, pikiranku sungguh berkecamuk.
     “Aldi.. satu lagi mama mohon padamu.” Katanya semakin melemah.
     “Maafkanlah, papamu... Mama khawatir... Jika mama pergi, papamu semakin tak dapat menjaga keluarga ini. Harga dirinya terlalu tinggi. Doakan papa selalu, Aldi. Walaupun dia selalu tak mau menegurmu, tetaplah tegur dia dengan sopan, nak. Semoga ia bisa berubah.” Lanjut mama lagi. Aku terdiam. Mampukah aku memaafkan ayahku? Sudah kucoba beberapa kali menegurnya, dia bagai tak bergeming.
     “Berjanjilah, nak.. Berjanjilah untuk mama.” Sekali lagi mama memohon. Belum sempat kujawab, seorang dokter masuk dan memintaku keluar untuk memberikan obat pada mama.
     “Anda, Aldi?” Tanya dokter yang tadi memintaku keluar. Aku mengangguk.
     “Sepertinya masih ada yang memberatkan ibu anda. Entah apa itu. Berbicaralah padanya dan turutilah permintaannya agar beliau bisa tenang. Aku yang tersisih ini, memegang suatu kunci penting untuk kedamaian batin ibuku. Ia memohonkan “maaf” dariku untuknya dan untuk ayahku.

     “Pa, aku berjanji pada mama akan selalu berusaha menegur papa. Walaupun papa tidak mau membalas teguranku, aku tetap akan menegur papa.” Kataku dari sisi samping tempat ayahku berdiri saat acara pemakaman ibuku. Sampai usai acara pemakaman ibuku dan aku telah berkumpul kembali dengan keluarga kecilku, ayahku masih tidak menegurku. Bagaimanapun, sesuai janjiku pada mama, aku akan tetap menegur dan mendoakan ayahku... Aku tak pernah berhenti berharap, sebelum semuanya terlambat agar ayahku mau berubah.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Yemayo Advance Education Center

▪ Fanpage Facebook Yemayo Advance Education Center: https://m.facebook.com/yemayoaec
▪ Kicau Keluarga follow Twitter @Yacinta_Senduk
▪ Juniory Pre-School. Pre-School unik, 1 kelas hanya 8 murid. Semua murid tertangani dengan baik. Info: https://m.facebook.com/juniorypreschool


Tentang Ayah Kami


Kami 4 orang bersaudara yang dibesarkan oleh sepasang ayah-ibu yang selalu hidup pas. Ayah kami menjadi mandor mesin pada perusahaan keluarganya. Sebagai anak yang paling tua ia menjaga pabrik usaha keluarganya sebagai amanat dari orangtuanya, kakek-nenek kami. Usaha keluarga itu berpenghasilan sangat baik namun pembagian hasil usaha di antara 6 kakak-beradik ayah kami itu tidaklah baik. Ayah kami seorang yang bersusah payah harus memastikan bahwa mesin-mesin pabrik berjalan baik selama 24 jam. Pergi ke pabrik ketika orang lain masih nyenyak di tempat tidurnya dan kembali ke rumah dengan jam yang sangat tidak beraturan. Jika ada mesin bermasalah, maka jam berapapun dan tak peduli apakah ayah kami baru saja kembali ke rumah dan baru hendak akan membaringkan kepalanya di bantal, ayah harus kembali ke pabrik. Pekerjaan 10 orang teknisi dilimpahkan kepada dia seorang demi menghemat biaya operasional. Memang ternyata ayah seorang yang pandai dan menyukai bidang permesinan tersebut namun hal itu tidak memberikannya harga yang sepadan dengan usaha dan kerja kerasnya.

Ibu kami tidak tahan melihat keadaan ayah yang demikian. Adik-adik ayah dan anak-anak mereka bisa bepergian ke luar negri dan mengendarai kendaraan mewah terbaru dengan menggunakan penghasilan usaha pabrik, sementara ibu dan kami berempat mengendarai sebuah kendaraan tua yang tadinya dipakai sebagai mobil operasional pabrik. Kendaraan tua itu sering sekali mogok, sehingga ibu kami harus menjemput anak-anak di sekolah dengan menggunakan angkutan umum.

     “Seharusnya mandor pabrik ditambah 2 atau 3 orang lagi. Jangan kamu semua yang tangani. Mau sampai kapan begitu terus. Kamu semakin tua, tidak bisa sehat selama-lamanya.” Itulah kata-kata yang sangat sering ibu katakan. Kami anak-anak tahu bahwa jika kata-kata itu sudah terlontarkan maka selalu akan menjadi keributan yang besar antara ayah-ibu kami.
     “Saya anak yang paling tua. Dari sejak menikah dengan saya, kamu tahu hal itu. Sekarang ini, saya sedang menjalankan kewajibanku.” Kata ayah dengan nada tinggi. Ayah kami adalah orang pabrik yang biasa berbicara keras. Kalimat-kalimat biasa saja bisa terdengar kasar di telinga.
     “Apakah waktu kamu menikah denganku, kamu tahu bahwa kamu harus menjadi suami dan ayah bagi anak-anakmu? Dan kamu berkewajiban memperhatikan keluargamu.” Jawab ibu sengit.
     “Sebagai istri, kamu harus bisa mendukung saya. Itu kewajibanmu dan jangan berisik.” Sanggah ayah.

Ayah kami sangat patuh pada orangtuanya, apapun yang dikatakan oleh kakek-nenek kami perihal bahwa ayah harus menjaga adik-adiknya, hal itu sangat dipegang erat olehnya; sehingga tampaknya, kehadiran istri dan anak-anaknya selalu menjadi prioritas terakhir. Sampai ketika harus menyekolahkan anak-anak, ibu kami harus mencari pinjaman ke sana kemari, ayah sama sekali tidak peduli, ia hanya bekerja dan bekerja saja bagai robot patuh yang dikendalikan oleh keluarganya.

Kini kami, anak-anak, sudah berkeluarga. Kakek-nenek kami dari ayah telah meninggal dunia. Hasil perjuangan ibu kami yang menabung dan pontang-panting mencari pinjaman ke sana kemari untuk pendidikan kami, terasa benar hasilnya. Ayah yang semakin menua seolah baru terjaga dari tidurnya yang panjang akan waktu-waktu yang telah terbuang hanya untuk menjaga pabrik dan menjadikan adik-adiknya kaya sementara istri dan anak-anaknya berjuang sendiri. Pada usia yang hampir mencapai 70 tahun, ayah memutuskan untuk fokus pada istri dan anak-anaknya; sementara pabrik usaha keluarganya gulung tikar setelah ditinggalkan ayah hanya setahun lebih.

Pada sebuah acara keluarga, kami semua berkumpul bersama. Dari kejauhan tempat kami semua duduk, kami melihat ayah kami bermain-main dengan beberapa cucunya, ia tampak gembira sekali. Tak berapa lama kemudian ia duduk dan seorang cucunya duduk di pangkuannya, pemandangan itu sebenarnya indah, namun kami berempat tak bisa tidak mengomentari hal itu.
     “Apa waktu kecil kita pernah digendong-gendong ayah?” Tanya Rita adikku.
     “Yah enggaklah! Orang ayah kaku begitu, tidak pernah di rumah. Mana ada waktu buat kita. Kita semua sudah terbiasa hidup tanpa ayah.” Jawab Riko adikku yang bungsu.
     “Iyalah. Dia kan memang hidup mengabdi buat saudara-saudaranya. Sudah tua begini saja baru sadar kalau dulu hanya diperalat keluarganya. Beruntung dia dapat istri seperti ibu yang bisa tetap bertahan dengannya dan memperjuangkan kita semua.” Sambung Erick.
     “Kalau tidak karena ibu, keluarga kita mana bisa utuh begini. Seumur hidupnya ayah akan menjadi budak keluarganya dan kita sudah jadi gembel kalau ibu tidak mati-matian mengatur semuanya. Bagaimana ibu sanggup hidup dengan ayah yang keras kepala selama itu ya?” Kata Rita.
     “Ayah kalian adalah korban ketidak-adilan keluarganya, jika ibu tinggalkan, ia akan menjadi korban ketidak-mau mengertian kita, dan tidak ada orang yang dapat sungguh-sungguh mengasihi dia. Ibu masih punya kalian, anak-anak ibu yang bisa mengasihi ibu; tapi ayah kalian? Akan sungguh merana hidupnya tanpa seorangpun yang mau mengasihi dia.” Seloroh ibu kami yang mendengar pembicaraan kami.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Yemayo Advance Education Center

▪ Fanpage Facebook Yemayo Advance Education Center: https://m.facebook.com/yemayoaec
▪ Kicau Keluarga follow Twitter @Yacinta_Senduk
▪ Juniory Pre-School. Pre-School unik, 1 kelas hanya 8 murid. Semua murid tertangani dengan baik. Info: https://m.facebook.com/juniorypreschool

Pilihan Suamiku


Aku tidak pernah mengetahui bahwa menikah dengan seorang perfeksionis sungguhlah membuat hidup ini bagai diteror terus menerus. Sering aku bertanya-tanya, mengapa dahulu aku mau menikah dengan suamiku? Atau, mengapa di tahun ketiga ini aku belum juga memutuskan untuk bercerai darinya? Sudah banyak orang berpendapat bahwa kemungkinan besar aku dan suamiku belum memiliki anak penyebabnya adalah karena aku begitu stress dengan perilaku suamiku.

Namun aku pun melihat kehidupan suamiku sungguhlah tidak mudah bagi dirinya sendiri. Ia memiliki standard kerapian, kebersihan dan keteraturan yang begitu rumit, sehingga dia sendiri pun sebenarnya menderita karenanya. Rumah kami sangat bersih, semua barang tertata sangat rapi, tidak lagi seperti rumah tapi lebih mirip bagai museum. Suamiku dapat mengamuk jika ia mendapatkan hal-hal tidak sejalan dengan kemauannya dan hal itu terjadi hampir setiap hari. Ia akan mengamuk jika lukisan didapatinya tidak sejajar, padahal menurutku sudah cukup baik, tapi entah mengapa dia bisa tahu bahwa lukisan itu ‘sedikit’ saja miring. Pakaian-pakaian harus tersusun rapi dari bentuk, ukuran dan warna. Segala sesuatunya benar-benar harus sesuai dengan aturannya. Ia bisa tidak menegur berhari-hari karena kesalahan kecil yang kubuat. Jika kami sedang dalam waktu tak bertegur sapa karena sebuah kesalahan kemarin dan hari kemudian didapatinya lagi kesalahanku, dia tak segan-segan membanting barang-barang hanya memastikan aku mengetahui bahwa aku melakukan kesalahan lagi.

Segala macam cara kupakai untuk menghadapi suamiku. Di awal-awal pernikahan aku sering bertengkar hebat dengan beradu mulut. Aku bisa berteriak-teriak kesetanan melawan kegilaannya, tapi itu hanya menambah dia marah. Walaupun suamiku tidak pernah menamparku tapi dia akan mendiamkan aku. Jika aku sudah didiamkannya, hanya jika aku menegurnya saja maka ia mau mencoba berbaikkan lagi denganku. Tidak pernah terjadi, sepanjang usia pernikahanku, dia yang menegurku lebih dahulu.

Temanku yang adalah seorang psikolog memintaku tetap terus secara perlahan membiarkan sedikit-sedikit beberapa barang untuk berada tidak pada tempatnya sebagai terapi untuk mengurangi keperfeksionisan suamiku, itu jika aku masih memilih untuk tetap tinggal dengannya dan itu berarti aku harus mau terus menerus berkonfrontasi dengannya. Saudara-saudaraku telah menyuruhku untuk bercerai darinya. Sementara aku terjebak di dalam sebuah perasaan bingung. Jika melihat keadaan suamiku, sebenarnya aku merasa kasihan padanya. Aku melihat bahwa ia pun sebenarnya menderita akan tuntutan dirinya sendiri. Sering dalam keadaan bingungnya itu, aku ingin membantunya memperlihatkan sisi hidup yang lebih sederhana, tidak serumit bayangannya, jika saja ia mau menerima hal tersebut dengan hati lapang.

     “Kau tahu, Viktor. Kurasa, aku tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi di dalam pernikahan kita. Aku terpaksa menyerah karena aku tidak tahu lagi bagaimana memperbaiki keadaan kita.” Kataku suatu malam pada suamiku. Kupikir, sebelum ada pertengkaran lagi, biarlah aku mengatakan hal ini.
     “Kau tahu, mengapa aku memilih menikah denganmu?” Tanya suamiku padaku.
     “Ya, kau pernah mengatakannya padaku... Karena akulah wanita yang paling mengerti dirimu.” Jawabku yang dibalas dengan anggukkannya.
     “Dan kemana wanita yang paling mengerti aku itu?” Tanyanya.
     “Wanita itu kini sudah mengerti bahwa semakin mengerti dirimu, itu berarti dia akan semakin kehilangan dirinya sendiri. Semakin engkau kuturuti, maka akan bertambah 1 orang lagi yang tidak bahagia di dunia ini, aku akan menjadi sama gilanya seperti dirimu.” Jawabku jujur. “Dahulu, aku percaya aku bisa berusaha membuatmu bahagia karena dahulu aku masih mampu membuatmu tertawa. Sekarang... Aku merasa kau menjadi terlalu kuat menyeretku ke duniamu. Aku tidak mau, Viktor. Aku tidak ingin menjadi seperti dirimu.” Kataku lagi.

Sepuluh hari lebih setelah pembicaraan itu kami tidak bertegur sapa, selama itu pula aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan yang Maha Kasih untuk memberikan keputusan yang terbaik bagi kami dan janganlah biarkan kami melanggar sumpah kami terhadapMU. Ada hal yang agak berbeda dalam keadaan diam kami kali ini, barang-barang yang tidak pada tempatnya tidak lagi menimbulkan kegeramannya. Dia masih tetap dengan kenecisannya namun dia terlihat lebih fleksibel.
     “Duabelas hari aku melatih diriku agar berubah. Bagaimana menurutmu?” Kata suamiku suatu hari membuat aku sangat terkejut. Aku sungguh sangat terkejut! Kupikir tadinya, bila nanti aku yang harus memulai pembicaraan pastilah hal itu tentang perceraian. Tapi sungguh ajaib! Hari ini, dialah yang memulai pembicaraan.
     “Tapi... Bagaimana ini bisa terjadi? Aku tidak mengerti.” Kataku kebingungan.
     “Elsa, pilihanku tidak banyak. Kehilangan dirimu dan aku akan semakin diperbudak oleh kegilaanku. Atau, tetap memiliki dirimu dan aku akan memiliki kesempatan besar untuk menikmati hidup. Kurasa, hanya orang bodoh saja yang mau memilih pilihan yang menyengsarakan.” Jawab suamiku dengan mata yang berbinar-binar. Tidak pernah dia kulihat sebahagia itu.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Yemayo Advance Education Center

▪ Fanpage Facebook Yemayo Advance Education Center: https://m.facebook.com/yemayoaec
▪ Kicau Keluarga follow Twitter @Yacinta_Senduk
▪ Tulisan Seputar Keluarga dari Yemayo AEC telah hadir di edisi terbaru Majalah Parents. Masih banyak lagi artikel bermanfaat lainnya di www.parentsindonesia.com
▪ Juniory Pre-School. Pre-School unik, 1 kelas hanya 8 murid. Semua murid tertangani dengan baik. Info: https://m.facebook.com/juniorypreschool