Tulisan-tulisan ini...

Semua tulisanku diinspirasikan oleh kisah nyata, sungguh nyata, dengan nama dan beberapa hal telah kuganti untuk melindungi privasi orang yang bersangkutan. Tulisan-tulisanku ini tidak untuk mengangkat 'kecengengan' atau 'kesedihan' tetapi sebaliknya, kisah-kisah yang kutulis ini adalah kisah-kisah perjuangan yang walau tidak mudah namun akhirnya penuh kemenangan dari pribadi-pribadi yang berhati baik.

-Salam hormat & kasihku untuk semua keluarga Indonesia.

Banyak anak dirusak oleh pola asuh yang tidak kompak!

Banyak orang percaya bahwa orang-orang yang bermasalah dengan narkoba dan seks bebas adalah mereka yang berasal dari keluarga broken home. Pendapat ini memang ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya benar. Sesungguhnya, banyak pribadi-pribadi bermasalah narkoba dan seks bebas datang dari keluarga yang mempunyai orangtua utuh, dalam arti ayah dan ibunya tidak bercerai. Anda terkejut?

Sangat banyak pasangan suami-istri yang masing-masing suami dan istrinya mempunyai prinsip yang berbeda dalam hal mendidik anak. Parahnya, perdebatan beda prinsip ini terjadi di depan mata anak, sehingga anak akan belajar dengan mudah memanipulasi satu pihak yang lemah.

Seorang ibu mengeluhkan perilaku anaknya yang susah diatur; jika disuruh belajar, anak itu punya banyak alasan menunda. Berbagai macam hukuman diberikan sang ibu, namun nampaknya anak sudah tidak perduli lagi. Nada-nada tinggi ibu, tidak digubris lagi oleh anak. Menambah runyam keadaan, sang suami berkali-kali menegur istrinya yang dianggap terlalu keras pada anak. “Sudahlah, ma, kalau dia sudah tidak mau belajar, terus mau diapakan? Masak kamu mau hukum terus? Sama anak keras bener!” Tegur sang suami ketika keluarga sedang berkumpul di meja makan. “Loh, jadi dibiarkan saja, dia tidak usah belajar? Terus kalau tidak naik kelas bagaimana? Nggak! Pokoknya, habis makan ini dia harus belajar 2 jam!” Bantah ibu. Pertengkaran perbedaan pendapat di depan anak ini, salah besar! Baru 15 menit anak belajar di kamar, sang ayah masuk dan berkata, “Tidak usah terlalu dipaksakan! Kalau kamu lelah, kamu tidur saja.” Hibur ayah. Ayah ini tidak tahu bahwa ia sedang merusak suatu proses pendidikan yang besar bagi pribadi anaknya.

“Aku nggak suka sama mamaku, mamaku seperti monster. Kerjanya marah-marah melulu! Paling enak sama papa, aku bisa main-main terus.” Komentar Mira (bukan nama sebenarnya) gadis kecil berusia 8 tahun kepada pengajar di kelas kami.
“Iya, kalau saya sama anak sih, tegas loh. Tapi papanya itu, belain melulu.” Curhat sang ibu kepada saya. Mungkin saja cara ibu tersebut marah-marah terus pada anaknya tidak benar. Tetapi lebih tidak benar lagi tindakan sang suami yang tidak membela sang istri di depan anaknya. Seharusnyalah suami-istri kompak menetapkan suatu peraturan dan menjalankannya dengan konsisten. Jika terasa ada kesalahan di dalam menjalankannya, misalnya, suami merasa istri terlalu keras menjalankan-nya atau sebaliknya, tegurlah pasangan anda di belakang anak. Jika anda merasa perlu merubah suatu peraturan, bicarakan dahulu dengan pasangan anda. Hindari mengganti peraturan di depan anak, sebab jika terjadi pertengkaran suami-istri, maka anak akan mempelajari mana pihak pasangan yang lemah, ayah atau ibu.

Pada kasus ibu tersebut, saya meminta ia dan suaminya datang. Saya jelaskan bahwa Mira menceritakan kepada kami bahwa ia tidak belajar karena menurut papa belajar itu tidak boleh terlalu dipaksakan. Pernyataan ini memang ada benarnya, tetapi dalam kasus Mira, ini adalah usaha ‘manipulasi’ anak untuk mendapatkan kebebasan secara berlebihan, yaitu supaya ia tidak usah belajar dan lebih banyak bermain saja. Pada saat ayah berusaha menjadi pahlawan untuk melepaskan anaknya tersebut dari kewajiban belajar, ayah itu tidak menyadari bahwa ia sedang menunjukkan suatu kelemahan yang besar. Anak mendapat persepsi bahwa papaku ‘lembek’ mudah dimanipulasi.

Sebulan sejak pembicaraan dengan pasangan suami-istri itu, saya melihat perubahan positif Mira, sang ibupun mengakui bahwa Mira mulai mau belajar sendiri. Pada saat ibu memarahi, ayah menimpali, “iya, mamamu benar. Sekarang masuk kamar dan belajarlah.” Di kelas pun Mira sudah sering bercerita tentang kebaikan mamanya. Syukurlah, mamanya sudah bukan monster lagi baginya…
Lihatlah kasus awalnya, hanya karena tidak kompak, pola belajar anak menjadi rusak; pola hormat kepada orangtuapun menjadi kacau!
Pada kasus pecandu narkoba, awalnya, ayah/ibu yang lemah adalah pihak yang selalu mendanai pembelian narkoba tersebut karena mudah dimintai uang. Pihak orangtua yang lemah merasa ‘tidak tega’ jika tidak memberi uang lebih, padahal uang itu dipakai untuk memperoleh narkoba atau untuk mendanai pesta-pesta malamnya. Sedangkan pihak yang keras menjadi pihak yang paling dibenci anak karena pihak itu dianggap berusaha menghalang-halangi kesenangannya.

Bagi orangtua yang merasa tidak tegaan atau ingin menjadi pahlawan bagi anak, ketahuilah bahwa anda justru sedang menjadi ‘penjahat’ bagi masa depan anak anda. Jika anda berpikir anak akan menyayangi anda, anda salah besar karena perlahan anak bertumbuh menjadi pribadi pembangkang yang tidak punya rasa hormat dan yang menganggap remeh peraturan, padahal hidup kita dikelilingi oleh banyak peraturan, seperti peraturan sekolah, peraturan kerja, norma-norma, dan sebagainya. Hari ini mungkin anak tampak menyayangi anda, namun ia akan menjadi kasar jika anda tidak memenuhi permintaannya. Kompaklah! Jika anda benar-benar sayang dengan keluarga anda. Selain anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik, pasangan andapun pasti akan merasa dihargai.

“orang yang selalu mempersiapkan segala sesuatu
telah menghadapi separuh dari peperangannya.”
= Miguel de Cervantes

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo – Advance Education Center
FB fanpage: http://www.facebook.com/pages/Yacinta-Senduk/124113834349748

Tidak ada komentar:

Posting Komentar