”Papanya baru pulang kerja. Baru buka sepatu. Rani langsung merengek-rengek minta dibelikan buku cerita.” Jelas seorang ibu tentang putrinya yang berusia 9 tahun. ”Ayo belikan, pa! Ayo belikan, pa!” Rengek Rani. ”Papanya kesal dan langsung masuk kamar saja. Melihat suami saya masuk ke kamar dengan kesal, saya jadi marah dengan Rani, saya bilang, tuh! Papa jadi marah kan sama kamu, ayo sana! Minta maaf pada papa. Tapi Rani tidak mau. Setelah itu, Rani dan papanya jadi tidak bertegur-sapa, sampai 2 hari lamanya. Saya sudah membujuk sampai membentak Rani supaya minta maaf pada papanya tapi Rani lebih rela saya pukul daripada meminta maaf pada papanya. Dia bilang, dia nggak salah kok, lagian papa juga nggak jawab apa-apa.” Lanjut ibu itu. ”Rani kan anak, dia harus minta maaf pada orangtua kalau berbuat salah.” Nada ibu itu kesal.
Komunikasi-komunikasi yang mandek akan membuat seorang pribadi bingung. Ayah Rani perlu mengkomunikasikan sesuatu kepada putrinya saat putrinya merengek. Ia bisa berkata, ”papa lagi capek, nanti kita bicarakan lagi.” Jika langsung ditinggalkan tanpa penjelasan, anak menjadi bingung. Ada yang terputus di sana! Permintaanku kah yang salah? Atau caraku kah yang salah? Alasan untuk minta maaf tidak ia temukan. Janganlah membiasakan anak untuk minta maaf hanya karena alasannya ’anak harus minta maaf pada orangtua’ karena hal ini akan mematikan nalar sehat anak.
Justru, jika ada porsi kesalahan atau ketidakjelasan yang berasal dari orangtua, orangtua pun harus menjelaskan dan mungkin perlu minta maaf, seperti: ”maaf, kemarin papa lagi capek, jadi papa belum ingin membicarakan tentang buku ceritamu. Sekarang, apa kamu masih menginginkan buku ceritamu? Bukankah buku ceritamu yang lain masih banyak yang belum dibaca?”
Anak-anak yang tidak terbiasa menjelaskan sesuatu hal dengan sebab-akibat yang jelas biasanya akan menjadi pribadi pemarah. Jika ada masalah, ia hanya bisa marah saja, juga ia akan menjadi pribadi yang tidak mau tahu, seperti berkata, ”Pokoknya, semuanya harus beres, tidak tau gimana caranya.” Pribadi-pribadi seperti ini akan kesulitan di dalam dunia kerja nantinya karena banyak orang akan sulit mengerti apa maunya.
Komunikasi-komunikasi yang mandek akan membuat seorang pribadi bingung. Ayah Rani perlu mengkomunikasikan sesuatu kepada putrinya saat putrinya merengek. Ia bisa berkata, ”papa lagi capek, nanti kita bicarakan lagi.” Jika langsung ditinggalkan tanpa penjelasan, anak menjadi bingung. Ada yang terputus di sana! Permintaanku kah yang salah? Atau caraku kah yang salah? Alasan untuk minta maaf tidak ia temukan. Janganlah membiasakan anak untuk minta maaf hanya karena alasannya ’anak harus minta maaf pada orangtua’ karena hal ini akan mematikan nalar sehat anak.
Justru, jika ada porsi kesalahan atau ketidakjelasan yang berasal dari orangtua, orangtua pun harus menjelaskan dan mungkin perlu minta maaf, seperti: ”maaf, kemarin papa lagi capek, jadi papa belum ingin membicarakan tentang buku ceritamu. Sekarang, apa kamu masih menginginkan buku ceritamu? Bukankah buku ceritamu yang lain masih banyak yang belum dibaca?”
Anak-anak yang tidak terbiasa menjelaskan sesuatu hal dengan sebab-akibat yang jelas biasanya akan menjadi pribadi pemarah. Jika ada masalah, ia hanya bisa marah saja, juga ia akan menjadi pribadi yang tidak mau tahu, seperti berkata, ”Pokoknya, semuanya harus beres, tidak tau gimana caranya.” Pribadi-pribadi seperti ini akan kesulitan di dalam dunia kerja nantinya karena banyak orang akan sulit mengerti apa maunya.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

0 comments:
Poskan Komentar