Suatu hari, Santi, murid kami yang berusia 9 tahun terlambat datang ke kelas.
“Maaf coach, saya terlambat.” Katanya. Ia belum mengganti seragamnya, tangan kirinya memegang sebuah piala dan tangan kanannya memegang tas sekolahnya.
“Mengapa terlambat, Santi?” Tanya pelatih.
“Habis ikut kejuaraan, coach.” Jawabnya datar. Berhubung suasana kelas sangat serius, Santi segera mencari tempat duduk dan meletakkan pialanya di lantai. Ukuran piala itu cukup besar, pelatih mengamati tulisan di piala itu, tertulis “Juara I”. Tiba-tiba piala itu secara tak sengaja tertendang Santi saat ia akan mengambil buku dari tasnya. “Wah! Pialamu jatuh, Santi.” Kata Pelatih. “Iya, biar saja, coach.” Jawabnya. Agak janggal juga melihat sebuah piala hanya ditaruh di lantai, bahkan ketika tertendang, si empunya tampak tidak peduli sama sekali.
Saat Santi dijemput, pelatih segera menemui mamanya, “Wah! Bu, selamat ya, Santi juara I!” Mama Santi hanya diam saja. “Tapi tadi pialanya sempat tertendang bu, jadi bagian atasnya patah.” Lanjut pelatih lagi.
“Ok.” Jawab ibu itu singkat.
“Tunggu ya bu, saya ambilkan lem untuk me-lem piala Santi.” Kata pelatih.
“Nggak usah! Ini sudah mau pulang.” Jawabnya.
“Cuma sebentar aja kok bu, tidak lama.” Kata pelatih masih antusias.
“Nggak usahlah, nggak perlu repot-repot.” Kata ibu itu tidak terlalu ramah.
“Sayang bu, itu piala juara satu loh bu.” Ujar pelatih.
“Itu cuma piala!!” Kali ini ia sangat ketus. Kebetulan Santi sudah keluar, mereka pun pulang. Pelatih tertegun melihat kejadian itu. Banyak orang senang mendapat juara dan senang mendapat piala, mengapa Santi dan mamanya tidak menunjukkan perasaan gembira sama sekali.
“Saya minta maaf akan kata-kata saya kemarin.” Kata mama Santi pada pelatih keesokan harinya.
“Saya juga minta maaf telah membuat ibu kesal.” Sahut pelatih.
“Coach tahu, waktu saya kecil dulu, saya beberapa kali dapat piala. Sebenarnya perasaan saya sangat senang... Tapi kalau saya menunjukkan piala saya kepada papa saya…” Ibu itu lalu terdiam. “Papa saya bilang… itu hanya benda, bukan uang! Tidak usah terlalu gembira!!” Suara ibu itu marah.
“Sudah 5 kali anak saya membawa pulang piala. Papanya bangga sekali... Dan saya? Saya iri pada anak saya karena papanya bangga melihat keberhasilannya. Sedangkan papa saya? Hanya uang yang bisa menyenangkannya.” Kata ibu itu getir.
“Ibu… hanya karena papa ibu lebih mementingkan uang, hal itu tidak menghapuskan kenyataan bahwa ibu pernah menjadi juara.” Ibu itu terkejut mendengar jawaban pelatih.
“Orang-orang yang kita kasihi berpengaruh besar akan hidup kita, mereka bisa membantu kita melihat atau tidak melihat akan suatu kenyataan… Bagaimana dengan Santi sekarang, bu? Akankah ketawaran hati ibu terhadap masa lalu, membutakan Santi akan kehebatannya untuk berprestasi?” Ibu itu terdiam seraya mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

0 comments:
Poskan Komentar