Ingin Mereka Berhasil Seperti Saya

     Sepasang suami istri akan menjemput anak-anak mereka, setelah cukup lama ditunggu, ternyata kedua anak mereka belum keluar juga sehingga sang istri segera mencari ke dalam kelas. Sementara itu, sang suami duduk di ruang tunggu.
     “Biasanya mereka pasti sedang asyik main dengan pelatih, Pak.” Kata saya kepada bapak yang sedang menunggu istri dan anak-anaknya itu. Ia segera mengangguk dan berkata, “Iya, tidak apa, biar istri saya saja yang mengajak pulang anak-anak. Mereka lebih menurut sama ibunya.” Kata bapak itu santai. Bermaksud mengisi kekosongan, saya berkata, “Apa dengan bapak, anak-anak kurang menurut?”
     “Entahlah! Saya belum tahu bagaimana harus mendidik anak saya.” Katanya berubah menjadi serius. “Saya menyerahkan masalah mendidik anak seutuhnya pada istri saya karena sampai saat ini, masih dilema bagi saya bagaimana untuk mendidik anak-anak.” Katanya
     “Mengapa dilema, Pak?” Tanya saya penasaran.
      “Kalau saya yang harus mendidik, mungkin saya akan mendidik dengan sangat keras… Anda tahu, perjalanan saya menjadi orang seperti hari ini, sangatlah tidak mudah. Saya telah mengalami hal-hal buruk. Tetapi… Itulah yang membuat saya ‘jadi orang’ saat ini.” Lanjutnya.
     “Waktu SMA, saya pernah terlibat tawuran dan dibawa ke kantor polisi. Saya sudah pernah merasakan dipukuli aparat. Waktu kuliah, saya juga aktivis, saya juga pernah diseret aparat lalu direndam di air bak dan mendekam di sel selama 2 hari. Nah! Kalau saya yang harus mendidik anak saya, saya akan keras dengan anak-anak saya, tidak boleh ada yang manja. Ini nih… Seperti dijemput-jemput begini, wah! Sebenarnya saya tidak setuju.” Kata bapak itu lagi.
     “Tetapi saya lihat, bapak dan ibu rajin menjemput anak-anak.” Sela saya.
     “Itulah mengapa tadi saya katakan bahwa ini adalah dilema buat saya.” Sahutnya.
     “Seandainya besok, bapak-ibu tidak usah menjemput lagi, bagaimana?” Tanya saya. Lama beliau tidak menjawab pertanyaan saya.
     “Saya tahu bahwa bapak berusaha menjawab pertanyaan saya dengan jujur. Sebenarnya bapak bisa saja menjawab, bapak menjemput karena istri bapak yang memanjakan anak-anak tetapi ada satu hal di dasar hati bapak dimana sebenarnya bapak juga ingin ikut menjemput anak-anak.” Kata saya.
     “Saya ingin melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh orangtua saya dulu, yaitu memperhatikan anak-anaknya. Tetapi saya takut mereka tidak bisa jadi orang berhasil kalau saya terlalu lembek.” Katanya benar-benar dengan raut bingung.
     “Seandainya anak-anak bapak tidak jadi orang berhasil seperti bapak, apakah bapak tetap akan menyayangi mereka?” Tanya saya ringan.
     “Tentu saja! Orangtua akan selalu sayang pada anak-anaknya sampai mati, bukankah harusnya begitu?” Ganti bapak itu bertanya.
     “Apakah setiap orang berhasil harus dipukuli aparat dan mendekam di sel penjara, Pak?” Tanya saya lagi. Bapak itu menggeleng. “Mulai saja mendidik anak-anak bersama istri bapak. Ikuti kata hati bapak, jangan ikuti ketakutan bapak. Anak-anak cepat menjadi besar, kalau bapak terlalu lama berada di dalam dilema, anak-anak mungkin tidak akan mengacuhkan bapak sebagai balas bahwa bapak tidak acuh juga di dalam mendidik mereka.” Kata saya tersenyum.
     Beberapa waktu kemudian, di dalam kelas, anak-anak bapak itu mulai sering bercerita tentang aktivitas mereka dengan ayah mereka. Anak-anak itu sedang diajari bisnis sederhana rupanya... Semoga sukses!


Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Ikuti sekilas parenting kami di youtube: http://youtu.be/DB_ewJfxGzg


Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

0 comments:

Poskan Komentar