Tulisan-tulisan ini...

Semua tulisanku diinspirasikan oleh kisah nyata, sungguh nyata, dengan nama dan beberapa hal telah kuganti untuk melindungi privasi orang yang bersangkutan. Tulisan-tulisanku ini tidak untuk mengangkat 'kecengengan' atau 'kesedihan' tetapi sebaliknya, kisah-kisah yang kutulis ini adalah kisah-kisah perjuangan yang walau tidak mudah namun akhirnya penuh kemenangan dari pribadi-pribadi yang berhati baik.

-Salam hormat & kasihku untuk semua keluarga Indonesia.

Pilihan Suamiku


Aku tidak pernah mengetahui bahwa menikah dengan seorang perfeksionis sungguhlah membuat hidup ini bagai diteror terus menerus. Sering aku bertanya-tanya, mengapa dahulu aku mau menikah dengan suamiku? Atau, mengapa di tahun ketiga ini aku belum juga memutuskan untuk bercerai darinya? Sudah banyak orang berpendapat bahwa kemungkinan besar aku dan suamiku belum memiliki anak penyebabnya adalah karena aku begitu stress dengan perilaku suamiku.

Namun aku pun melihat kehidupan suamiku sungguhlah tidak mudah bagi dirinya sendiri. Ia memiliki standard kerapian, kebersihan dan keteraturan yang begitu rumit, sehingga dia sendiri pun sebenarnya menderita karenanya. Rumah kami sangat bersih, semua barang tertata sangat rapi, tidak lagi seperti rumah tapi lebih mirip bagai museum. Suamiku dapat mengamuk jika ia mendapatkan hal-hal tidak sejalan dengan kemauannya dan hal itu terjadi hampir setiap hari. Ia akan mengamuk jika lukisan didapatinya tidak sejajar, padahal menurutku sudah cukup baik, tapi entah mengapa dia bisa tahu bahwa lukisan itu ‘sedikit’ saja miring. Pakaian-pakaian harus tersusun rapi dari bentuk, ukuran dan warna. Segala sesuatunya benar-benar harus sesuai dengan aturannya. Ia bisa tidak menegur berhari-hari karena kesalahan kecil yang kubuat. Jika kami sedang dalam waktu tak bertegur sapa karena sebuah kesalahan kemarin dan hari kemudian didapatinya lagi kesalahanku, dia tak segan-segan membanting barang-barang hanya memastikan aku mengetahui bahwa aku melakukan kesalahan lagi.

Segala macam cara kupakai untuk menghadapi suamiku. Di awal-awal pernikahan aku sering bertengkar hebat dengan beradu mulut. Aku bisa berteriak-teriak kesetanan melawan kegilaannya, tapi itu hanya menambah dia marah. Walaupun suamiku tidak pernah menamparku tapi dia akan mendiamkan aku. Jika aku sudah didiamkannya, hanya jika aku menegurnya saja maka ia mau mencoba berbaikkan lagi denganku. Tidak pernah terjadi, sepanjang usia pernikahanku, dia yang menegurku lebih dahulu.

Temanku yang adalah seorang psikolog memintaku tetap terus secara perlahan membiarkan sedikit-sedikit beberapa barang untuk berada tidak pada tempatnya sebagai terapi untuk mengurangi keperfeksionisan suamiku, itu jika aku masih memilih untuk tetap tinggal dengannya dan itu berarti aku harus mau terus menerus berkonfrontasi dengannya. Saudara-saudaraku telah menyuruhku untuk bercerai darinya. Sementara aku terjebak di dalam sebuah perasaan bingung. Jika melihat keadaan suamiku, sebenarnya aku merasa kasihan padanya. Aku melihat bahwa ia pun sebenarnya menderita akan tuntutan dirinya sendiri. Sering dalam keadaan bingungnya itu, aku ingin membantunya memperlihatkan sisi hidup yang lebih sederhana, tidak serumit bayangannya, jika saja ia mau menerima hal tersebut dengan hati lapang.

     “Kau tahu, Viktor. Kurasa, aku tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi di dalam pernikahan kita. Aku terpaksa menyerah karena aku tidak tahu lagi bagaimana memperbaiki keadaan kita.” Kataku suatu malam pada suamiku. Kupikir, sebelum ada pertengkaran lagi, biarlah aku mengatakan hal ini.
     “Kau tahu, mengapa aku memilih menikah denganmu?” Tanya suamiku padaku.
     “Ya, kau pernah mengatakannya padaku... Karena akulah wanita yang paling mengerti dirimu.” Jawabku yang dibalas dengan anggukkannya.
     “Dan kemana wanita yang paling mengerti aku itu?” Tanyanya.
     “Wanita itu kini sudah mengerti bahwa semakin mengerti dirimu, itu berarti dia akan semakin kehilangan dirinya sendiri. Semakin engkau kuturuti, maka akan bertambah 1 orang lagi yang tidak bahagia di dunia ini, aku akan menjadi sama gilanya seperti dirimu.” Jawabku jujur. “Dahulu, aku percaya aku bisa berusaha membuatmu bahagia karena dahulu aku masih mampu membuatmu tertawa. Sekarang... Aku merasa kau menjadi terlalu kuat menyeretku ke duniamu. Aku tidak mau, Viktor. Aku tidak ingin menjadi seperti dirimu.” Kataku lagi.

Sepuluh hari lebih setelah pembicaraan itu kami tidak bertegur sapa, selama itu pula aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan yang Maha Kasih untuk memberikan keputusan yang terbaik bagi kami dan janganlah biarkan kami melanggar sumpah kami terhadapMU. Ada hal yang agak berbeda dalam keadaan diam kami kali ini, barang-barang yang tidak pada tempatnya tidak lagi menimbulkan kegeramannya. Dia masih tetap dengan kenecisannya namun dia terlihat lebih fleksibel.
     “Duabelas hari aku melatih diriku agar berubah. Bagaimana menurutmu?” Kata suamiku suatu hari membuat aku sangat terkejut. Aku sungguh sangat terkejut! Kupikir tadinya, bila nanti aku yang harus memulai pembicaraan pastilah hal itu tentang perceraian. Tapi sungguh ajaib! Hari ini, dialah yang memulai pembicaraan.
     “Tapi... Bagaimana ini bisa terjadi? Aku tidak mengerti.” Kataku kebingungan.
     “Elsa, pilihanku tidak banyak. Kehilangan dirimu dan aku akan semakin diperbudak oleh kegilaanku. Atau, tetap memiliki dirimu dan aku akan memiliki kesempatan besar untuk menikmati hidup. Kurasa, hanya orang bodoh saja yang mau memilih pilihan yang menyengsarakan.” Jawab suamiku dengan mata yang berbinar-binar. Tidak pernah dia kulihat sebahagia itu.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Yemayo Advance Education Center

▪ Fanpage Facebook Yemayo Advance Education Center: https://m.facebook.com/yemayoaec
▪ Kicau Keluarga follow Twitter @Yacinta_Senduk
▪ Tulisan Seputar Keluarga dari Yemayo AEC telah hadir di edisi terbaru Majalah Parents. Masih banyak lagi artikel bermanfaat lainnya di www.parentsindonesia.com
▪ Juniory Pre-School. Pre-School unik, 1 kelas hanya 8 murid. Semua murid tertangani dengan baik. Info: https://m.facebook.com/juniorypreschool

Tidak ada komentar:

Posting Komentar