Tulisan-tulisan ini...

Semua tulisanku diinspirasikan oleh kisah nyata, sungguh nyata, dengan nama dan beberapa hal telah kuganti untuk melindungi privasi orang yang bersangkutan. Tulisan-tulisanku ini tidak untuk mengangkat 'kecengengan' atau 'kesedihan' tetapi sebaliknya, kisah-kisah yang kutulis ini adalah kisah-kisah perjuangan yang walau tidak mudah namun akhirnya penuh kemenangan dari pribadi-pribadi yang berhati baik.

-Salam hormat & kasihku untuk semua keluarga Indonesia.

Aku, Suamiku dan Putera Kami


Kami dikarunia seorang anak laki-laki dan tiga orang putri. Secara fisik, ke-empat putra-putri kami sehat walafiat, itu saja sebenarnya cukup menjadi hal yang kami syukuri dalam hidup ini. Namun suamiku dan putra sulung kami selalu saja tak bisa akur. Suamiku seorang yang sangat disiplin. Ia dibesarkan dari keluarga berkekurangan, hidup telah menempanya menjadi pribadi ulet yang berhasil. Segala keuletan dan kedisiplinannya itulah yang ingin ditanamkannya pada anak sulung kami, putera kami satu-satunya. Banyak metode parenting yang mati-matian coba diterapkan oleh suamiku kepada Jason; tapi tampaknya metode-metode itu tak dapat berjalan baik. Jika suamiku adalah seseorang yang ‘saklek’ berbeda sekali dengan Jason, ia adalah seorang anak laki-laki yang lebih menunjukkan kemampuan seninya, terutama pada alat musik. Beberapa alat musik dipelajarinya secara otodidak, ia dan alat musik seperti menyatu walaupun tidak ada satu kursus musik pun yang diikutinya. Bukan kemampuan seni itu yang sering menyebabkan pertengkaran antara Jason dan suamiku, tapi sifat Jason yang lambat, semaunya sendiri, tidak disiplin, berantakan, itu yang selalu menjadi pemicu keributan.

Ayah dan anak itu sering sekali bertengkar; naik mobil saja contohnya, ada beberapa macam pertengkaran yang mengesalkan, seperti Jason membanting pintu mobil terlalu kencang, buku PR-nya yang tertinggal berulang-ulang, cara duduknya yang serampangan, bertengkar dengan adik-adik perempuannya. Itu baru tentang di mobil, masih banyak hal-hal yang memusingkan kepala yang aku sendiri sebagai istri dan ibu menjadi bingung. Suatu hari aku bisa memihak suamiku, di hari lain aku bisa memihak Jason. Suatu hari aku bisa ikut memikirkan metode parenting untuk dijalankan bersama suamiku, di lain hari aku bisa menasehati suamiku panjang lebar untuk tidak bersikap terlalu keras pada Jason.

     “Dia itu seorang laki-laki. Harus belajar bertanggung-jawab. Bagaimana hidupnya nanti kalau begitu terus kelakuannya? Bisa jadi gembel dia.” Beberapa kali kudengar pernyataan itu dari mulut suamiku. Dalam hatiku aku mengakui, aku pun khawatir akan masa depan Jason dengan sikapnya yang tak berubah juga, tapi aku pun tidak ingin suamiku terus menerus memprediksi nasib buruk akan menimpa puteraku. Sebagai orangtua, seharusnyalah kami mendoakan putera-puteri kami kepada Tuhan, bukan menyerapahi dengan hal-hal buruk. Seperti biasa, aku hanya terdiam membiarkan suamiku mengeluarkan unek-uneknya tentang Jason.

     “Ma, bagaimana caranya supaya Jason tidak terus menerus bertengkar dengan papa? Mengapa duduk 5 menit saja dekat papa akan ada saja keributan? Jason kan juga mau seperti teman-teman Jason, mereka bisa nyantai duduk bareng sama papa mereka nggak pake ribut-ribut. Kok Jason dan papa tidak bisa seperti itu? Menurut mama, Jason harus bagaimana?” Tanya puteraku yang telah menginjak usia 17 tahun itu.

     “Sayang... Mama tidak mau kau berubah untuk menyenangkan papa.” Kataku.
     “Maksud mama?” Tanya Jason bingung mendengar kata-kataku.
     “Kalau kau mau berusaha, berubahlah untuk dirimu sendiri, untuk hidupmu sendiri, dan berdoalah kepada Tuhan, mohon tuntunanNya.” Sambungku.
     “Tapi, ma.. Papa juga harus berubah. Jangan hanya Jason saja yang berubah.” Protesnya.
     “Kalau kau menuntut orang lain berubah, orang lain mungkin tidak berubah, dan kau akan selalu kecewa. Itulah sebabnya mama katakan, jangan berubah untuk menyenangkan papa. Berubahlah karena kau ingin memiliki hidup dan masa depan yang baik; itu termasuk jika kau harus berubah dan papamu tidak mau berubah.” Kataku lagi.
     “Bagaimana itu?” Tanyanya.

     “Untuk kali ini... Mama harap kau yang memikirkan caranya, agar kau bisa bertanggung jawab atas tindakan yang akan kauambil.” Jawabku mencoba untuk tidak terus menerus menasehatinya dengan cara ini dan itu. Toh, cara ini dan itu telah kami teriakkan hampir setiap hari padanya. Mungkin saat ini adalah saat yang baik untuk Jason mulai berpikir.

     “Aneh sekali Jason hari ini. Dia tidak banyak membantah seperti biasanya jika kutegur.” Ujar suamiku setelah mengganti pakaian kerjanya.
     “Baik atau tidak seperti itu?” Tanyaku.
     “Ehhmmm... Yaaa, baik sih. Tapi ada apa sih?” Ia balik bertanya.
     “Kalau baik, sudahkah kau berbicara hal baik dengannya? Atas usahanya? Atau hal apa saja yang menyenangkan?” Lagi tanyaku.
     “Masakan baru baik begitu saja sudah harus kupuji. Jangan-jangan itu cuma angot-angotan saja. Aku selalu bersikap baik pada mama-papaku sejak kecil, tidak dipuji-puji tuh.” Jawabnya.
     “Ya, mungkin benar dia hanya angot-angotan saja. Tapi itu adalah satu kesempatan baik bagimu dan anakmu untuk menikmati suatu waktu kebersamaan dengan membicarakan hal yang baik. Siapa tahu besok kalian sudah akan bertengkar lagi seperti anjing dan kucing. Kau akan menyesal tidak pernah berbicara baik-baik dengan anakmu.” Kataku sambil berlalu menuju dapur, yang jelas, aku tidak bisa memaksa siapapun untuk berubah; namun jika ingin berubah, biarlah berubah ke arah yang lebih baik dengan kesadaran masing-masing. 15 menit berada di dapur, kudengar suara 2 laki-laki yang kusayangi itu tertawa-tawa di ruang tamu. Mungkin itu hal yang angot-angotan saja, tapi paling tidak, hal baik itu benarlah pernah terjadi.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Yemayo Advance Education Center

▪ Fanpage Facebook Yemayo Advance Education Center: https://m.facebook.com/yemayoaec
▪ Kicau Keluarga follow Twitter @Yacinta_Senduk
▪ Juniory Pre-School. Pre-School unik, 1 kelas hanya 8 murid. Semua murid tertangani dengan baik. Info: https://m.facebook.com/juniorypreschool

Tidak ada komentar:

Posting Komentar