Tulisan-tulisan ini...

Semua tulisanku diinspirasikan oleh kisah nyata, sungguh nyata, dengan nama dan beberapa hal telah kuganti untuk melindungi privasi orang yang bersangkutan. Tulisan-tulisanku ini tidak untuk mengangkat 'kecengengan' atau 'kesedihan' tetapi sebaliknya, kisah-kisah yang kutulis ini adalah kisah-kisah perjuangan yang walau tidak mudah namun akhirnya penuh kemenangan dari pribadi-pribadi yang berhati baik.

-Salam hormat & kasihku untuk semua keluarga Indonesia.

Permohonan Ibu-ku


Aku adalah bungsu dari 3 bersaudara yang selalu saja mendapat perlakuan berbeda dari ayahku. 7 tahun yang lalu telah terjadi pertengkaran yang hebat antara aku dan ayahku hingga aku memilih untuk meninggalkan rumah. Bermula dari kuutarakan betapa ayahku telah memperlakukan aku tidak adil dibadingkan kedua kakakku; ayahku hanya menjawab bahwa aku hanyalah anak yang harus menurut pada kata-kata orangtua dan tidak boleh membantah sama sekali. Ia lebih mirip seorang diktator bagiku daripada seorang ayah. Aku merasa bahwa aku harus menunjukkan sikap yang tegas untuk menentukan pilihan hidupku. Aku masih mencoba meminta restu orangtuaku ketika aku akan menikahi istriku, tapi ayahku tak menegurku sama sekali saat aku datang ke rumahnya. Ibuku lebih banyak diam. Aku sulit menyalahkan ibuku. Antara peran sebagai istri dan ibu, ibuku lebih memilih untuk membela suaminya daripada menenangkan anaknya. Syukurlah, bersama keluarga kecilku aku bahagia bersama istri dan 2 orang anakku. Sejak aku telah menjadi seorang ayah bagi anak-anakku, aku semakin heran bagaimana ayahku bisa bersikap sedemikian keras kepada darah dagingnya sendiri? Kebanggaan apa yang diperolehnya dengan memperlakukan anak kandungnya dengan semena-mena?

6 hari sejak mengetahui ibuku berada di ICU baru siang itulah aku dapat tiba di rumah sakit ini karena sulitnya memperoleh tiket pesawat. Di gang rumah sakit itu aku bertemu dengan ayahku dan Norman kakakku yang tertua. Norman tampak terlihat gelisah namun antusias bertemu denganku; ia memelukku. Kemudian aku menghampiri ayahku yang sedang duduk terdiam. Ia melihatku sebentar dengan ekspresi muka yang dingin, lalu membuang mukanya.
     “Apa kabar, Pa?” Sapaku masih berusaha menegurnya. Tiba-tiba Norman menepuk pundakku, “Ayolah, lihat mama. Dokter bilang, semua keluarga harus sudah berkumpul. Kita semua harus sudah siap. Keadaannya sangat tidak baik. Dokter heran bagaimana mama masih bisa sadar dalam keadaan organ tubuhnya yang sudah banyak tidak dapat berfungsi lagi.” Jelas Norman.  Mendengar penjelasan Norman, aku sempat terdiam sejenak. Suatu perasaan sedih yang sangat besar menghantamku. Tiba-tiba tubuhku gemetar. “Oh, Tuhan. Keluarga ini telah menyingkirkan “kasih keluarga”. Kami semua hanya dibesarkan untuk bisa bertahan hidup dan mandiri; sementara “kasih” itu selalu disingkirkan oleh gengsi, harga diri, uang dan nama baik. Bagaimana menyelesaikan masalah ini jika mama sudah harus pergi? Aku sungguh tak tahu. Sungguh perasaan itu mengguncang jiwaku.

     “Di.. Aldi..” Terdengar suara mama di antara suara-suara mesin alat bantu yang ada di dekatnya.
     “Sini, nak..” Katanya seperti ingin segera menyampaikan sesuatu.
     “Anakku... Mama minta maaf atas semua kesalahan mama padamu. Mama sudah harus pergi, nak. Tapi mama harus menunggu engkau datang. Mama bukanlah mama yang baik buatmu, nak. Mama hanya selalu takut kalau papamu marah. Jadi mama selalu diam saja tidak pernah membelamu. Maafkan mama, nak.” Kata mama susah payah menyelesaikan kalimatnya.
     “Aldi sudah punya keluarga yang baik, ma. Mama jangan khawatir. Istri dan anak-anak Aldi semuanya baik-baik dan kami saling menyayangi. Jika mama sudah sembuh, nanti Aldi bawa mereka bertemu dengan mama.” Aku mencoba menghibur ibuku.
     “Mama minta maaf, Aldi. Mama sungguh-sungguh minta maaf. Maafkan mama, nak.” Kata mama lagi sungguh mengejar pernyataan maafku.
     “Ya, Aldi maafkan, ma. Maafkan Aldi juga untuk kesalahan Aldi pada mama. Bagaimanapun, Aldi bersyukur telah dilahirkan mama. Terimakasih, ma.” Kataku lagi.
     “Kau adalah anak yang baik. Anak baik yang kami abaikan, maafkan mama, nak. Maafkan kami, orangtuamu.” Kata mama lirih sambil menangis. Sejenak keadaan menjadi sunyi. Aku memegangi tangan kanan ibuku, pikiranku sungguh berkecamuk.
     “Aldi.. satu lagi mama mohon padamu.” Katanya semakin melemah.
     “Maafkanlah, papamu... Mama khawatir... Jika mama pergi, papamu semakin tak dapat menjaga keluarga ini. Harga dirinya terlalu tinggi. Doakan papa selalu, Aldi. Walaupun dia selalu tak mau menegurmu, tetaplah tegur dia dengan sopan, nak. Semoga ia bisa berubah.” Lanjut mama lagi. Aku terdiam. Mampukah aku memaafkan ayahku? Sudah kucoba beberapa kali menegurnya, dia bagai tak bergeming.
     “Berjanjilah, nak.. Berjanjilah untuk mama.” Sekali lagi mama memohon. Belum sempat kujawab, seorang dokter masuk dan memintaku keluar untuk memberikan obat pada mama.
     “Anda, Aldi?” Tanya dokter yang tadi memintaku keluar. Aku mengangguk.
     “Sepertinya masih ada yang memberatkan ibu anda. Entah apa itu. Berbicaralah padanya dan turutilah permintaannya agar beliau bisa tenang. Aku yang tersisih ini, memegang suatu kunci penting untuk kedamaian batin ibuku. Ia memohonkan “maaf” dariku untuknya dan untuk ayahku.

     “Pa, aku berjanji pada mama akan selalu berusaha menegur papa. Walaupun papa tidak mau membalas teguranku, aku tetap akan menegur papa.” Kataku dari sisi samping tempat ayahku berdiri saat acara pemakaman ibuku. Sampai usai acara pemakaman ibuku dan aku telah berkumpul kembali dengan keluarga kecilku, ayahku masih tidak menegurku. Bagaimanapun, sesuai janjiku pada mama, aku akan tetap menegur dan mendoakan ayahku... Aku tak pernah berhenti berharap, sebelum semuanya terlambat agar ayahku mau berubah.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Yemayo Advance Education Center

▪ Fanpage Facebook Yemayo Advance Education Center: https://m.facebook.com/yemayoaec
▪ Kicau Keluarga follow Twitter @Yacinta_Senduk
▪ Juniory Pre-School. Pre-School unik, 1 kelas hanya 8 murid. Semua murid tertangani dengan baik. Info: https://m.facebook.com/juniorypreschool


Tidak ada komentar:

Posting Komentar