Tulisan-tulisan ini...

Semua tulisanku diinspirasikan oleh kisah nyata, sungguh nyata, dengan nama dan beberapa hal telah kuganti untuk melindungi privasi orang yang bersangkutan. Tulisan-tulisanku ini tidak untuk mengangkat 'kecengengan' atau 'kesedihan' tetapi sebaliknya, kisah-kisah yang kutulis ini adalah kisah-kisah perjuangan yang walau tidak mudah namun akhirnya penuh kemenangan dari pribadi-pribadi yang berhati baik.

-Salam hormat & kasihku untuk semua keluarga Indonesia.

Tentang Ayah Kami


Kami 4 orang bersaudara yang dibesarkan oleh sepasang ayah-ibu yang selalu hidup pas. Ayah kami menjadi mandor mesin pada perusahaan keluarganya. Sebagai anak yang paling tua ia menjaga pabrik usaha keluarganya sebagai amanat dari orangtuanya, kakek-nenek kami. Usaha keluarga itu berpenghasilan sangat baik namun pembagian hasil usaha di antara 6 kakak-beradik ayah kami itu tidaklah baik. Ayah kami seorang yang bersusah payah harus memastikan bahwa mesin-mesin pabrik berjalan baik selama 24 jam. Pergi ke pabrik ketika orang lain masih nyenyak di tempat tidurnya dan kembali ke rumah dengan jam yang sangat tidak beraturan. Jika ada mesin bermasalah, maka jam berapapun dan tak peduli apakah ayah kami baru saja kembali ke rumah dan baru hendak akan membaringkan kepalanya di bantal, ayah harus kembali ke pabrik. Pekerjaan 10 orang teknisi dilimpahkan kepada dia seorang demi menghemat biaya operasional. Memang ternyata ayah seorang yang pandai dan menyukai bidang permesinan tersebut namun hal itu tidak memberikannya harga yang sepadan dengan usaha dan kerja kerasnya.

Ibu kami tidak tahan melihat keadaan ayah yang demikian. Adik-adik ayah dan anak-anak mereka bisa bepergian ke luar negri dan mengendarai kendaraan mewah terbaru dengan menggunakan penghasilan usaha pabrik, sementara ibu dan kami berempat mengendarai sebuah kendaraan tua yang tadinya dipakai sebagai mobil operasional pabrik. Kendaraan tua itu sering sekali mogok, sehingga ibu kami harus menjemput anak-anak di sekolah dengan menggunakan angkutan umum.

     “Seharusnya mandor pabrik ditambah 2 atau 3 orang lagi. Jangan kamu semua yang tangani. Mau sampai kapan begitu terus. Kamu semakin tua, tidak bisa sehat selama-lamanya.” Itulah kata-kata yang sangat sering ibu katakan. Kami anak-anak tahu bahwa jika kata-kata itu sudah terlontarkan maka selalu akan menjadi keributan yang besar antara ayah-ibu kami.
     “Saya anak yang paling tua. Dari sejak menikah dengan saya, kamu tahu hal itu. Sekarang ini, saya sedang menjalankan kewajibanku.” Kata ayah dengan nada tinggi. Ayah kami adalah orang pabrik yang biasa berbicara keras. Kalimat-kalimat biasa saja bisa terdengar kasar di telinga.
     “Apakah waktu kamu menikah denganku, kamu tahu bahwa kamu harus menjadi suami dan ayah bagi anak-anakmu? Dan kamu berkewajiban memperhatikan keluargamu.” Jawab ibu sengit.
     “Sebagai istri, kamu harus bisa mendukung saya. Itu kewajibanmu dan jangan berisik.” Sanggah ayah.

Ayah kami sangat patuh pada orangtuanya, apapun yang dikatakan oleh kakek-nenek kami perihal bahwa ayah harus menjaga adik-adiknya, hal itu sangat dipegang erat olehnya; sehingga tampaknya, kehadiran istri dan anak-anaknya selalu menjadi prioritas terakhir. Sampai ketika harus menyekolahkan anak-anak, ibu kami harus mencari pinjaman ke sana kemari, ayah sama sekali tidak peduli, ia hanya bekerja dan bekerja saja bagai robot patuh yang dikendalikan oleh keluarganya.

Kini kami, anak-anak, sudah berkeluarga. Kakek-nenek kami dari ayah telah meninggal dunia. Hasil perjuangan ibu kami yang menabung dan pontang-panting mencari pinjaman ke sana kemari untuk pendidikan kami, terasa benar hasilnya. Ayah yang semakin menua seolah baru terjaga dari tidurnya yang panjang akan waktu-waktu yang telah terbuang hanya untuk menjaga pabrik dan menjadikan adik-adiknya kaya sementara istri dan anak-anaknya berjuang sendiri. Pada usia yang hampir mencapai 70 tahun, ayah memutuskan untuk fokus pada istri dan anak-anaknya; sementara pabrik usaha keluarganya gulung tikar setelah ditinggalkan ayah hanya setahun lebih.

Pada sebuah acara keluarga, kami semua berkumpul bersama. Dari kejauhan tempat kami semua duduk, kami melihat ayah kami bermain-main dengan beberapa cucunya, ia tampak gembira sekali. Tak berapa lama kemudian ia duduk dan seorang cucunya duduk di pangkuannya, pemandangan itu sebenarnya indah, namun kami berempat tak bisa tidak mengomentari hal itu.
     “Apa waktu kecil kita pernah digendong-gendong ayah?” Tanya Rita adikku.
     “Yah enggaklah! Orang ayah kaku begitu, tidak pernah di rumah. Mana ada waktu buat kita. Kita semua sudah terbiasa hidup tanpa ayah.” Jawab Riko adikku yang bungsu.
     “Iyalah. Dia kan memang hidup mengabdi buat saudara-saudaranya. Sudah tua begini saja baru sadar kalau dulu hanya diperalat keluarganya. Beruntung dia dapat istri seperti ibu yang bisa tetap bertahan dengannya dan memperjuangkan kita semua.” Sambung Erick.
     “Kalau tidak karena ibu, keluarga kita mana bisa utuh begini. Seumur hidupnya ayah akan menjadi budak keluarganya dan kita sudah jadi gembel kalau ibu tidak mati-matian mengatur semuanya. Bagaimana ibu sanggup hidup dengan ayah yang keras kepala selama itu ya?” Kata Rita.
     “Ayah kalian adalah korban ketidak-adilan keluarganya, jika ibu tinggalkan, ia akan menjadi korban ketidak-mau mengertian kita, dan tidak ada orang yang dapat sungguh-sungguh mengasihi dia. Ibu masih punya kalian, anak-anak ibu yang bisa mengasihi ibu; tapi ayah kalian? Akan sungguh merana hidupnya tanpa seorangpun yang mau mengasihi dia.” Seloroh ibu kami yang mendengar pembicaraan kami.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Yemayo Advance Education Center

▪ Fanpage Facebook Yemayo Advance Education Center: https://m.facebook.com/yemayoaec
▪ Kicau Keluarga follow Twitter @Yacinta_Senduk
▪ Juniory Pre-School. Pre-School unik, 1 kelas hanya 8 murid. Semua murid tertangani dengan baik. Info: https://m.facebook.com/juniorypreschool

Tidak ada komentar:

Posting Komentar